Senin, 27 April 2009
"MANGROVE"
Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjo yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob.
Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang diantaranya terancam punah, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatranensis), bekantan (Nasalis larvatus), wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam (Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilus javanicus, dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran.
Beberapa jenis mangrove yang terkenal:
- Bakau (Rhizopora spp.)
- Api-api (Avicennia spp.)
- Pedada (Sonneratia spp.)
- Tanjang (Bruguiera spp.)
Peran dan manfaat hutan mangrove :
> pelindung alami yang paling kuat dan praktis untuk menahan erosi pantai.
> menyediakan berbagai hasil kehutanan seperti kayu bakar, alkohol, gula, bahan penyamak kulit, bahan atap, bahan perahu, dll.
> mempunyai potensi wisata
> sebagai tempat hidup dan berkembang biak ikan, udang, burung, monyet, buaya dan satwa liar lainnya yang diantaranya endemik.
Jika hutan mangrove hilang :
+ abrasi pantai
+ dapat mengakibatkan intrusi air laut lebih jauh ke daratan
+dapat mengakibatkan banjir
+ perikanan laut menurun
+sumber mata pencaharian penduduk setempat berkurang
EKOWISATA DALAM UPAYA PELESTARIAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE YANG BERBASIS MASYARAKAT
Muhammad Faishol Baihaqi
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang
ABSTRAK
Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh gerakan pasang surut air laut. Hutan mangrove di Indonesia terluas di dunia, yaitu mencapai 25% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia. Tanaman mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting secara ekologi dan ekonomi, baik untuk masyarakat lokal, regional, nasional maupun global. Namun dibalik keunggulannya, hutan mangrove mendapat tekanan yang tinggi akibat perkembangan infrastuktur, pemukiman, pertanian, perikanan, dan industri, karena 60% dari penduduk Indonesia bermukim di daerah pantai. Diperkirakan sekitar 200.000 ha mangrove di Indonesia mengalami kerusakan setiap tahun. Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah untuk memberikan gambaran tindakan penyelamatan ekosistem mangrove dari kerusakan dengan melibatkan semua pihak teknis dan terkait secara kolaboratif, yaitu melalui pembentukan ekowisata hutan mangrove. Pengelolaan dan pelestarian mangrove bisa diterapkan melelui ekowisata hutan mangrove, dengan berbagai teknik pengelolaan seperti pengelolaan sumber daya pesisir yang berbasiskan masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu, dimana dalam konsep pengelolaan ini melibatkan seluruh stakeholder yang kemudian menetapkan prioritas–prioritas. Dengan berpedoman tujuan utama, yaitu tercapainya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
Kata kunci : ekowisata dan hutan Mangrove
PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan secara geografis terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia mempunyai keanekaragaman hayati laut yang tidak terhitung jumlahnya, salah satunya adalah hutan mangrove. Berdasarkan SK Dirjen Kehutanan Nomor: 60/Kpts/Dj./I/1978, yang dimaksud hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh gerakan pasang surut air laut. Hutan mangrove di Indonesia terluas di dunia, yaitu mencapai 25% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia (Mangrove Information Center, 2006 dalam Subadra, 2007). Ekosistem mangrove sebagai salah satu sumber yang perlu mendapat perhatian di wilayah pesisir dikarenakan hutan mangrove berfungsi sebagai spawning ground, feeding ground, dan juga nursery ground, di samping sebagai tempat penampung sedimen, sehingga hutan mangrove merupakan ekosistem dengan tingkat produktivitas yang tinggi dengan berbagai macam fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang penting (Wantasen, 2002).
Namun hutan mangrove yang merupakan ekosistem peralihan antara ekosistem darat dan laut, memiliki karakteristik yang khas. Kondisi semacam ini menyebabkan ekosistem hutan mangrove sangat rawan terhadap pengaruh faktor luar (Alikodra, 1995 dalam Irianto, 2008). Berdasarkan data tahun 1999, luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan mencapai 8,60 juta hektar dan 5,30 juta hektar di antaranya dalam kondisi rusak (Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, 2001). Kerusakan hutan mangrove secara berlebihan akan mengakibatkan berkurangnnya daerah resapan air, abrasi, dan bencana alam seperti erosi dan banjir serta mengakibatkan hilangnya pusat sirkulasi dan pembentukan gas karbon dioksida (CO2) dan oksigen O2 yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya (Subadra, 2007).
Menyikapi fenomena tersebut, Usaha reboisasi hutan mangrove akan memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat, yaitu melalui pembentukan ekowisata hutan mangrove. Sebab, persediaan untuk konsumsi oksigen sudah tersedia di tempat ini sekaligus untuk meningkatkan rasa aman dari bencana tsunami bagi masyarakat yang berdekatan dengan hutan mangrove tersebut. Selain itu, kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya pelestarian hutan mangrove semakin meningkat, terutama dari pihak akademisi dan industri pariwisata yang secara sukarela untuk ikut serta menanam pohon mangrove di beberapa tempat yang menjadi kawasan konservasi. Yang mana usaha untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan adalah dengan membuka kegiatan wisata alam sehingga masyarakat dapat melihat, menikmati dan berinteraksi dengan lingkungan secara langsung di kawasan hutan mangrove tersebut.
Ekowisata sendiri telah menjadi trend baru di dunia Internasional sebagai salah satu dari isu 4T (Transportation, Telecommunication, Tourism dan Technology) dalam milenium ketiga. Ekowisata merupakan sebuah pengembangan konsep dari penyelarasan antara kegiatan manusia (aspek wisata) dan lingkungan sekitar (aspek ekologi).
Industri pariwisata selama ini memiliki peran dan makna begitu tinggi dalam aspek kehidupan manusia. Dalam perkembangannya, sektor pariwisata dunia memiliki kecenderungan untuk berubah secara konsep dari Unsustainable forms of tourism menjadi Sustainable Tourism. Dari sisi kepariwisataan, ekowisata merupakan kolaborasi dari tiga macam wisata, diantaranya Rural tourism, Nature Tourism, dan Cultural Tourism. Dimana wisata-alam yang selama ini kita kenal, mempunyai kecenderungan berubah menjadi ekowisata, jika sustainable tourism dijadikan sebagai acuan (Chaniago, 2008).
Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah untuk memberikan gambaran tindakan penyelamatan ekosistem mangrove dari kerusakan dengan melibatkan semua pihak teknis dan terkait secara kolaboratif, yaitu melalui pembentukan ekowisata hutan mangrove.
METODE PENULISAN
Paradigma berguna untuk memandu peneliti selama melakukan proses penelitian. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruksionisme, yang mana seluruh elemennya meliputi ontologi, epistemologi, dan aksiologi harus menggunakan ruh konstruksionis.
Asumsi ontologis pada paradigma konstruktivisme adalah besifat relatif. Artinya, realitas sosial dan suatu masalah yang diteliti merupakan realitas sosial buatan yang memiliki unsur relativitas yang cukup tinggi dan berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial. Asumsi epistemologis dalam pendekatan ini bersifat subjektif-dialektikal. Artinya pemahaman atau temuan suatu realitas yang terdapat di dalam teks media merupakan hasil dari penalaran peneliti secara subjektif dan sebagai hasil kreatif peneliti dalam membentuk realitas. Asumsi aksiologis dalam paradigma ini adalah peneliti bertindak sebagai passionate participant, yakni berperan sebagai fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial.
Analisis framing memiliki implikasi penting bagi komunikasi. Framing menuntut perhatian terhadap beberapa aspek dari realitas dengan mengabaikan elemen-elemen lainnya yang memungkinkan khalayak memiliki dukungan berbeda. Dari sejumlah item berita, terdapat beberapa berita pada masing-masing sumber yang berkaitan dengan tema yang diangkat penulis.
Teknik pengumpulan data pada penelitian framing bersifat multilevel karena akan dibagi menjadi dua level. Pertama, pengumpulan data pada level teks media dan kedua, pengumpulan data pada level manajemen redaksional (Birowo, 2004).
Dengan teknik analisis framing, peneliti mencoba menganalisis pemasalahan melalui teks berita dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan praktisi. Wawancara dilakukan dengan asumsi bahwa pengalaman dan pengetahuan individu akan mengendap dan mengkristal kemudian memberikan kemampuan bagi individu yang bersangkutan untuk memetakan, menerima, mengidentifikasi, dan memberikan label pada informasi yang diterima (Goffman dalam Agus Sudibyo, 2001).
Subyek penelitian ini dilakukan pada individu yang mengetahui tema yang diangkat penulis. Dari sini diharapkan informasi benar-benar memiliki kompetensi dan relevansi dengan pemasalahan yang diangkat.
PEMBAHASAN
Paradigma Baru Pembangunan Ekowisata
Secara global, sektor pariwisata (termasuk ekowisata) pada saat ini menjadi harapan bagi banyak Negara termasuk Indonesia sebagai sektor yang dapat diandalkan dalam pembangunan ekonomi. Pada saat ini sektor pariwisata telah menjadi industri swasta yang terpenting di dunia. Menurut World Travel and Tourism Council, terbukti pada tahun 1993 pariwisata merupakan industri terbesar di dunia dengan pendapatan lebih dari US$ 3,5 triliyun atau 6 %.
Masalah kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan pada saat ini sangat menonjol dan menjadi isu internasional yang mendapat perhatian khusus. Di sisi lain, justru kepariwisataan alam mengalami perkembangan yang meningkat dan signifikan. Kepariwisataan alam kemudian berkembang ke arah pola wisata ekologis yang dikenal dengan istilah ekowisata (ecotourism) dan wisata minat khusus (alternative tourism). Pergeseran dalam kepariwisataan internasional terjadi pada awal dekade delapan puluhan. Pergeseran paradigma pariwisata dari mass tourism ke individual atau kelompok kecil, maka wisata alam sangat berperan dalam menjaga keberadaan dan kelestarian obyek dan daya tarik wisata (ODTW) alam pada khususnya dan kawasan hutan pada umumnya. Pergeseran paradigma tersebut cukup berarti dalam kepariwisataan alam sehingga perlu diperhatikan aspek ekonomi, ekologi, dan masyarakat lokal (sosial)nya (Fandeli dan Mukhlison, 2000 dalam Gunarto, 2004).
Ekowisata Hutan Mangrove
Wisatawan saat ini sangat peka terhadap permasalahan lingkungan. Menyesuaikan dengan kondisi positif ini, konsep-konsep pariwisata dikembangkan sehingga timbul inovasi-inovasi baru dalam kepariwisataan. Salah satu konsep pariwisata yang sedang marak ialah ekowisata, dengan berbagai teknik pengelolaan seperti pengelolaan sumber daya pesisir yang berbasiskan masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu, dimana dalam konsep pengelolaan ini melibatkan seluruh stakeholder yang kemudian menetapkan prioritas–prioritas. Dengan berpedoman tujuan utama, yaitu tercapainya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
Konsep ekowisata ini dinilai cocok untuk dikembangkan di Indonesia, dengan beberapa alasan yang melandasinya, pertama; Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati dan ekowisata bertumpu pada sumberdaya alam dan budaya sebagai atraksi. Namun disisi lain Indonesia juga mengalami ancaman terbesar dari degradasi keanekaragaman hayati baik darat maupun laut, sehingga memerlukan startegi yang tepat dan alat/sarana yang tepat pula, guna melibatkan kepedulian banyak pihak, untuk menekan laju kerusakan alam. Kedua pelibatan masyarakat, konsep ini cocok untuk mengubah kesalahan-kesalahan dalam konsep pengelolaan pariwisata terdahulu, yang lebih bersifat komersial dan memarginalisasikan masyarakat setempat, serta mampu menyerap tenaga kerja yang lebih besar. Namun lebih dari itu, demi keberhasilan usaha ini tidak semua kawasan yang memiliki mangrove memiliki potensi pariwisata untuk dikembangkan, yang mana dapat ditentukan atas faktor-faktor berikut:
- Lokasi harus memenuhi kategori seperti keunikan dan dapat dijangkau
- Perencanaan ekowisata dan persiapan oleh masyarakat untuk menjalankan ekowisata sebagai usaha bersama,
- Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kegiatan ekowisata,
- Interpretasi atas alam dan budaya yang baik,
- Kemampuan untuk mencipakan rasa nyaman, aman kepada wisatawan, dan juga usaha pembelajaran kepada wisatawan,
- Menjalin hubungan kerja yang berkelanjutan kepada pemerintah dan organisasi-organisasi lain yang terlibat.
Dilemanya ialah kegiatan pariwisata tidak melulu menghasilkan hal-hal yang indah atau ideal, bahkan sangat sering hal-hal negatif dalam lingkungan dan masyarakat karena kegiatan pariwisata yang terlalu intensif dan secara bersamaan tidak terkelola dengan baik, dan akhirnya membunuh sumber daya yang melahirkan pariwisata itu sendiri. Oleh karena itu pengembangan ekowisata harus dilakukan secara berkelanjutan, yaitu dengan memperhatikan lingkungan, masyarakat dan pergerakan perekonomian yang terjadi sebelum dan selama ekowisata dijalankan.
Ekowisata mampu memberikan kontribusi secara langsung melalui konservasi, yang berupa penambahan dana untuk menyokong kegiatan konservasi dan pengelolaan lingkungan, termasuk didalamnya penelitian untuk pengembangan. Selain itu, pengunjung/wisatawan membantu dalam usaha perlindungan dengan memberikan informasi atas kegiatan ilegal dan membantu dalam memformulasikan semacam “buku petunjuk” pengunjung selama melakukan kunjungan atau berwisata.
Sedangkan kontribusi ekowisata secara tidak langsung melalui konservasi berupa meningkatnya kesadaran publik terhadap konservasi pada tingkat lokal, nasional bahkan internasional. selain itu, pendidikan konservasi selama berwisata menjadi bagian pengalaman yang terbentuk selama wisatawan ber-ekowisata, yaitu dengan melibatkan wisatawan secara langsung terhadap kegiatan pelestarian (sekaligus meningkatkan kualitas produk ekowisata yang ditawarkan).
KESIMPULAN
Pengelolaan dan pelestarian mangrove bisa diterapkan melelui ekowisata hutan mangrove, dengan berbagai teknik pengelolaan seperti pengelolaan sumber daya pesisir yang berbasiskan masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu, dimana dalam konsep pengelolaan ini melibatkan seluruh stakeholder yang kemudian menetapkan prioritas–prioritas. Dengan berpedoman tujuan utama, yaitu tercapainya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjo yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob.
Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang diantaranya terancam punah, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatranensis), bekantan (Nasalis larvatus), wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam (Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilus javanicus, dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran.
Beberapa jenis mangrove yang terkenal:
- Bakau (Rhizopora spp.)
- Api-api (Avicennia spp.)
- Pedada (Sonneratia spp.)
- Tanjang (Bruguiera spp.)
Peran dan manfaat hutan mangrove :
> pelindung alami yang paling kuat dan praktis untuk menahan erosi pantai.
> menyediakan berbagai hasil kehutanan seperti kayu bakar, alkohol, gula, bahan penyamak kulit, bahan atap, bahan perahu, dll.
> mempunyai potensi wisata
> sebagai tempat hidup dan berkembang biak ikan, udang, burung, monyet, buaya dan satwa liar lainnya yang diantaranya endemik.
Jika hutan mangrove hilang :
+ abrasi pantai
+ dapat mengakibatkan intrusi air laut lebih jauh ke daratan
+dapat mengakibatkan banjir
+ perikanan laut menurun
+sumber mata pencaharian penduduk setempat berkurang
Minggu, 19 April 2009
manusia biasa boooo
kadang orang tua emang suka menilai kita dari hasil nilai dan prestasi dll dan tetk bengek yang kadang hanya itu yang membuat mereka bangga . tapi loe harus tahu apa yang loe miliki itu berharga banget buat diri loe sendiri, karena ga da orang lain yang loe punya kaya loe.orang tua boleh kok bilang kita ga bisa dapat nilai bagus , kita ga ada perubahan dll. tapi yang tahu cuman loe, loe harus bangga apa yang loe ada sekarang karena kita itu hidup kaya roda yang bisa berputar kapan aja dan dalam kondisi apapaun.
gw paling benci aja gitu kalo orang tua dah banding-bandingin anak-anaknya. gile aja loe bayangin ga sih kalo kita jadi yang dibandingin pasti sakit banget, emng sih kata-kata orang tua paling bener tapi mereka tu kadang ga mikir apa yang mereka omngn buat kita. mereka cuman ngelihat dari satu sisi.
gw juga kadang kalo gini, gw ngerasa gw sakit. kadang kita cuman bisa nangis, tapi mereka ga sadar apa yang mereka omngn cuman bikin kita sakit doang. gileee yaaaaa
hahah sedangkan saingan kita semakin bangga karena mereka dibanggain mulu, dan kadang mereka iktan bandingin2 kita.
HAHAHHAHA MEREKA DAH MERASA MEREKA HEBAT. coba deh kita nggmng pasti kita dah kena damprat, dibilang kita cuman ngmng doang lah. eh bayangin kita mau buktiin kita dah dibilang gw mungkin bisa dll. anjrit sakit ga tuuu
gw bingung aja mereka kok ga pernah lihat dunia luar gitu ya, kenapa sh ada anak-anak korban narkoba dll, kita ga boleh salahin anak-anak itu tapi kita juga harus lihat kondisi keluarganya mungkin aja mereka tertekan.
gw paling ga suka samape kita dilarang pergi kemana2 gara-gara kita ga sebagus apa yang didapt saingan kita, gile yaaa mang kita ga butuh hiburan dll. mereka cuman mikir kita ga bermutu dll.
gw cuman pengen mereka sadar kalo mereka salah, semua orang ga ada yang sama. dan please loe yang jadi kaya gini bisa ngmng dan buktiin kalo loe semua itu mampu.hanya doa dan Tuhan yang bakal ngebantu loe, mungkin loe bisa nangis tapi kalo loe nangis kadang mereka semakin menila kita remeh.
:))
hari wanita yang jarang kita tahu !!
Padahal yaa Kartini ingin mengangakat derajat cewek biar kita juga bisa melakukan kemampuan apa yang kita miliki. Tapi kadang kemampuan kita ga pernah dipake dengan bener, cewek jaman sekarang bisa dibilang sudah kadar bebas.
Gw cuman pengen banget bilang kita sebagai cewek harus jaga diri, badan kita mahall boooo. dan juga jangan gampang direndahin .kita bakal jadi seorang ibu yang bakal didik anak kita.
Jadi budayakan sifat2 KARTINI,
selamat hari Kartini
Selasa, 14 April 2009
Kemanakah Hutan Kita?
Indonesia termasuk negara yang kaya akan sumber daya alam dari yang dapat diperbaharui dan juga yang tidak dapat diperbaharui. Dan Indonesia juga termasuk negara yang penuh dengan sumber daya manusia yang di suatu daerha penuh dengan kepadatan penduduk. Indonesia bisa dikatakan maju dengan negara tetangga seperti malaysia,singapura dll. Namun apa yang dimiliki Indonesia tidak dapat dimanfaatkan dengan baik. Salah satu kekayaan Indonesia adalah Hutan. Hutan di Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai penyerapan air, paru-paru kota, tempat tinggal hewan dan tumbuhan.
Namun sekarang banyak sekali hutan-hutan di daerah-daerah yang gundul dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Banyak sekali akibat-akibat yang terjadi akibat hutan yang gundul. Memang hutan di Indonesia luas dan bermacam-macam namun akibat dari gundul nuan hutan adalah bencana alam yang sangat merugikan semua orang dan dapt memakan korban. Sekarang bisa dikatakan setiap menit nya hutan hilang 6 kali luas lapangan sepak bola.Itu sangat luas dan tidak dapat dibayangkan dikemanakan hutan seluas itu dan untuk apa. Kemanakah hutan itu ?pertanyaan ini harus ditujukan kepada siapa ? siapa yang akan bertanggung jawab atas semua ini ? Yang mengelolah hutan memang Departemen Kehutanan namun apakah ini hanya tanggung jawab Departemen ini. Mana kewajiban manusia yang tinggal di Indonesia ?
Ternyata ini semua ulah orang jahil yang tidaj bertanggung jawab. Mereka hanya memikirkan keuntungan ekonomi sesaat, dengan yang mereka lakukan yaitu ladang berpindah, pembalakan hutan secara liar, memburu hewan-hewan dan hutan dijadikan perumahan atau bangunan-bangunan mewah dll. Hutan ini memang milik negara, namun apakah hanya pemerintah bertanggung jawab dengan hutan di Indonesia, lalu apa kewajiban kita sebagai anak Indonesia ? Hutan itu pergi, mengakibatkan datangnya bencana seperti tanah longsor, banjir, pemanasan global, tidak ada lagi paru-paru kota dll. Dan itu sangat berakibat fatal bagi Indonesia. Hutan dapat menampung resapan air pada musim hujan, jika tidak ada resapan air seperti hutan maka air itu akan turun ke daerah yang lebih rendah dan menggenangi pemukiman penduduk. Memang ini bencana alam buatan namun ini karena ulah jahil sehingga penduduk yang tidak bersalah juga menanggung akibatnya, dan mereka yang menjadi korban. Yang menjadi korban sebagian besar penduduk yang menengah kebawah dan tangan jahil adalah pengusaha-pengusaha kaya yang dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan. Dan sekarang dapat dilihat Indonesia tinggal ‘seupil’ Hutan yang masih hijau. Apakah negara kita yang tercinta ini dapat asri seperti dulu ? dan bagaimana caranya ? Hanya kita warga Indonesia yang sadar dengan masalah ini.
Maka butuh waktu yang sangat lama agar negara kita dapat hijau kembali walaupun lahannya banyak yang hilang, namun banyak langkah dan cara agar negara kita indah. Dan keindahan Indonesia akan dinikmati oleh anak cucu kita sehingga mereka akan bangga bahwa Ia menjadi warga Indonesia yang mempunyai sumber daya alam yang patut dibanggakan. Negara hijau itulah yang kita inginkan !!
Agatadesy XIS1-1
Agatadesy XIS1-1
